Mobil antik hanya milik pecinta sejati

Hobi mampu membuat seseorang lupa waktu bahkan ada yang rela mendedikasikan sebagian hidupnya untuk sesuatu yang bagi orang lain tidak berguna dan sekadar membuang waktu. Begitu juga dengan hobi mobil antik atau klasik.

Pandangan sebagai orang aneh dan kurang kerjaan pasti langsung dialamatkan saat penggemar barang antik tersebut membawa pulang sebuah mobil tua yang lebih tepat disebut kaleng butut bermesin yang lebih patut dibuang ke tempat sampah.

Tapi tidak bagi seorang pehobi mobil antik. Perlahan dengan kesabaran dibersihkannya tubuh kaleng itu dari karat yang menempel erat. Hari demi hari setiap sudut hingga baut digosok dengan teliti agar kembali mengkilap.

Tak lupa mesin yang merupakan jantung dari kaleng itu juga di rapihkan agar kembali bugar. Setiap titik ditelisik. Kalau perlu dibongkar total, dicuci bersih dan disusun kembali dengan onderdil yang jika perlu harus baru.

Sehari, seminggu, sebulan tak cukup bahkan perlu bertahun untuk membuat kaleng butut bermesin itu agar kembali menjelma dalam bentuk aslinya. Sesosok mobil mengkilat yang pernah menggoreskan sejarahnya di jalanan.

Lalu orang-orang pun hanya bisa menatap takjub sekaligus kagum saat sang penghobi, bukan, mungkin lebih tepat jika disebut pecinta mobil kuno itu melintas perlahan dengan benda yang disebut kaleng itu.

“Wah, kalau cuma di-omelin [dimarahi] istri gara-gara tiap ada waktu luang ngutak-atik mobil saya, itu sudah biasa. Toh lebih baik kan daripada ngutak-atik perempuan lain,” papar Imam Effendi, pendiri Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), di sela-sela peluncuran buku Jejak Roda Petualang dalam rangka peringatan 25 tahun PPMKI, pekan lalu.

Pemilik Fiat 1100 cc keluaran 1951 warisan orangtuanya, Wahyono Amiaji, itu menuturkan ada kenikmatan saat dari tangannya bisa muncul sebuah kendaraan yang sebelumnya tak layak jalan mampu kembali melaju di jalanan.

Kakek lima cucu yang pernah mengoleksi 18 mobil kuno itu menuturkan kenikmatan yang lain tentu saja adalah saat mobil yang dirawatnya mampu melaju dengan lancar saat menjalani touring jarak jauh tanpa macet.

Dia menuturkan tak hanya jalanan di penjuru Pulau Jawa yang sudah dia lahap dengan mobil tuanya, Imam mengaku perjalannya sudah pernah mencapai Aceh, Sulawesi, Bali, hingga ke Brunei Darussalam.

Hal yang tak terlalu berbeda juga dialami oleh Bambang Rus Effendi, Ketua PPMKI yang mengaku mendapatkan hobi itu dari sang ayah, Kadaroesman, yang merupakan anggota TNI AD.

“Ada kenangan setiap saya kembali mengendarai mobil antik tersebut. Saat itu, saya sering duduk dipangkuan beliau [ayah] yang mengendarai mobil,” ujar direktur PT Praweda Ciptakarsa Informatika yang sukses menangani IT pada Pemilu 1999.

Tetapi dibanding Imam, Bambang-yang hari itu membawa Morris-nya-lebih beruntung, hobi mobil antiknya itu bisa diwariskan pada kedua anak laki-lakinya, Rheinky dan Arssy.

Tak heran meski dirinya sibuk mengurus berbagai organisasi dan pekerjaanya, dia cukup tenang saat memelihara koleksi mobil antiknya mulai dari Fiat 1925 hingga Austin Seven 1937.

Tetapi ada juga yang mulanya benci kemudian jatuh cinta. Hal itu terjadi pada pengusaha Antony Djunaedi. Saat itu dia menyarankan agar mertuanya menjual seluruh koleksi Mercy klasiknya.

Alasanya karena terlalu lama nongkrong di garasi dan beliau sudah tak ada waktu untuk merawatnya. Saat itu tak ada ketertarikan sama sekali dengan ‘mobil tua’. “pasti sukanya mogok dan buat macet sepanjang jalan,” pikirnya.

Beliau setuju untuk menjual semuanya, tetapi dengan syarat agar Antony menghidupkan kembali koleksinya itu sebelum menjualnya. Dimulai dengan 280S W116 tahun 1973.

“Sangat sulit untuk mencari sebagian part nya di sini, untunglah akhirnya saya menemukan penyalur part original di Jerman. Setelah hampir selesai perbaikan, saya mencoba untuk menyetirnya. Begitu nyaman dan mantap,” kenangnya.

Rupa-rupanya, lanjutnya, kendaraan tua itu jauh lebih nyaman dari C klasse yang saya pakai tiap hari ke kantor. Hasilnya, saat itu juga Mercy yang lain yaitu 220Sb W111 1965 ditarik ke bengkel untuk segera dihidupkan.

“Ada perbedaan antara pemilik dan penggemar mobil antik. Pemilik belum tentu memiliki cinta pada mobil yang dimilikinya. Sebaliknya penggemar memiliki begitu banyak cinta pada kendaraanya,” ujar Roni Arifudin, Sekjen PPMKI.

Tentang agiztha

, gu adalah laki-laki. .
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s